Cilegon – Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon sekaligus Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Cilegon, Masduki, mendorong kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu menciptakan perubahan dan menjawab tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Masduki saat mengisi materi dalam Forum Nasional Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Cilegon di Vila Patra Anyer, Senin (26/10/2026) malam.

Dalam pemaparannya, Masduki menegaskan bahwa kader HMI tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan daya kritis. Mereka juga harus mampu melahirkan gagasan, menciptakan peluang, serta memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor, mulai dari sosial, ekonomi hingga kepemimpinan publik.
Menurutnya, nilai-nilai dasar perjuangan HMI harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi slogan organisasi.
“Tujuan HMI adalah membentuk insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT. Itu harus diaplikasikan oleh setiap kader, di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Masduki juga menekankan pentingnya keberanian kader dalam mengawal kepentingan masyarakat. Sikap kritis, kata dia, harus disertai kepekaan sosial dan kemampuan menyampaikan persoalan publik kepada pemangku kebijakan secara konstruktif.
Ia menilai tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks sehingga kader HMI dituntut memiliki kapasitas lebih dari sekadar kemampuan berorganisasi. Mereka harus mampu membaca persoalan, mengelola isu, menyelesaikan konflik, hingga menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak ingin ada kader yang lahir tanpa proses. Kader harus ditempa, belajar menyelesaikan persoalan, mengelola isu, dan memahami tanggung jawabnya. Tantangan hari ini jauh lebih berat sehingga kapasitas dan kematangan kader harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Masduki kemudian mengenang perjalanan dirinya saat menjadi mahasiswa di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menurut dia, HMI menjadi salah satu ruang penting untuk memperluas wawasan dan mengasah kemampuan kepemimpinan di luar bangku kuliah.
Melalui proses pengaderan dan pengalaman berorganisasi, ia mengaku memperoleh bekal untuk menghadapi dinamika kepemimpinan, termasuk ketika didorong maju sebagai presiden mahasiswa.
Selain di lingkungan HMI, Masduki mengajak para kader memperluas ruang pengabdian melalui organisasi kepemudaan di tingkat lokal, seperti Karang Taruna dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Ia menilai pengabdian tidak boleh berhenti pada aktivitas internal organisasi. Kader harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan di lingkungannya, dan mengambil peran dalam mendorong perubahan.
“Jangan hanya kritis terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Kepekaan terhadap persoalan masyarakat harus diperkuat, dan kader harus mampu menghadirkan solusi,” pungkasnya.
Melalui forum LK II tersebut, Masduki berharap lahir kader-kader HMI yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang dalam kepemimpinan, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu bersaing dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (*/Red)