KonteksMedia – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Cilegon ke-27 bukan hanya sekadar seremoni tahunan yang bermewah-mewahan, tapi titik refleksi sekaligus arah ke depan bagi kota industri ini.
Terutama mencakup kebutuhan mendasar masyarakat seperti bertahan hidup dengan layak, kebutuhan akses pendidikan, kesehatan dan infrastruktur jalan yang memadai.
Hal tersebut menjadi catatan kritis disampaikan oleh Anggota DPRD Kota Cilegon, Ahmad Aflahul Aziz dalam momentum hari lahir Kota Cilegon ke 27 tahun.
Menurut aziz kebutuhan dasar tersebut memiliki ketimpangan yang sangat besar, terutama pengangguran, dengan realisasi investasi sepanjang tahun 2025 dari perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp 23,81 triliun, sedangkan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 8,49 triliun.
“Pengangguran meningkat pada tahun 2025 mencapai 7,41 persen, naik sebesar 1,33 perswn dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 6,08 persen,” kata aziz, Jumat (26/4/2026).
Menurut aziz, pertumbuhan industri yang kuat harusnya menjadi kontribusi besar terhadap ekonomi daerah.
Selain pengangguran aziz juga menyoroti soal masih banyaknya Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang tercatat sekitar 2.508 yang masih menjamur di kota seribu dollar ini.
“Salah satunya adalah kesejahteraan masyarakat yang belum merata. Fakta masih adanya rumah tidak layak huni dan tingkat pengangguran yang relatif tinggi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif. Kota dengan kawasan industri besar semestinya mampu menyerap tenaga kerja lokal lebih optimal dan memastikan warganya hidup layak,” kata Aziz
Selain pengentasan pengangguran dan rutilahi, aziz juga memberikan catatan soal banyaknya wilayah kumuh di Kota Cilegon.
“Wilayah kumuh di Kota Cilegon menuruts data sekitar 76,29 Hektar tersebar di delapan kecamatan dan 17 kelurahan yang dihuni oleh sekitar 11.502 penduduk, ini harus menjadi perhatian serius pemkot Cilegon,” kata Aziz
“Di usia ke-27 ini, Cilegon sudah bukan kota yang sedang tumbuh, tetapi kota yang seharusnya mulai matang. Artinya, fokus pembangunan tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan dan kualitas hidup,” imbuhnya (*/Red)