Oleh : Mang Pram
Di Kampung Kopi, pagi yang seharusnya damai berubah menjadi saat yang terusik oleh bisingnya deru mesin dari Unit 9-10 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Kota Cilegon, Banten. Bunyi yang terus-menerus ini menggantikan suara burung dan canda tawa, menciptakan atmosfer yang tak lagi menenangkan.
“Dulu, pagi kami penuh ketenangan. Kini, seperti tinggal di tengah pabrik,” ungkap seorang petani yang telah bermukim di sana selama lebih dari tiga dekade.
Bagi warga Kampung Kopi, suara dari PLTU ini tidak sekadar gangguan fisik. Polusi suara tersebut telah menjadi bagian tak terelakkan dari kehidupan mereka, mengusik ketentraman mental dan membayangi keseharian dengan stres yang terus-menerus.
Kebisingan dari Unit 9-10 termasuk dalam jenis polusi lingkungan yang kerap diabaikan, padahal dampaknya signifikan. Menurut WHO, paparan suara berlebihan dapat mengganggu aktivitas harian, memicu stres, dan berdampak buruk pada kesehatan, seperti gangguan tidur, masalah pendengaran, hingga risiko penyakit serius seperti jantung dan diabetes.
Khususnya bagi anak-anak, efeknya lebih berat karena ketidakmampuan mereka mengelola stres. Banyak dari mereka mulai mengalami kesulitan fokus di sekolah, sulit tidur, bahkan menunjukkan perilaku yang berubah. Para lansia pun merasakan kecemasan yang tak jelas sebabnya.
Warga menganggap polusi suara ini sebagai wujud ketidakadilan. Mereka merasa hak untuk hidup dalam ketenangan, yang dilindungi oleh konstitusi, telah dirampas. Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang seharusnya menjamin kesejahteraan rakyat terasa hanya sebatas janji.
“Jika benar ada yang peduli, kami tidak akan dibiarkan menderita seperti ini,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Harapan untuk hidup tenang seperti dahulu perlahan memudar. Meski tetap bertahan, mereka membutuhkan solusi yang nyata, bukan hanya perbaikan sementara. Seorang warga bahkan hanya bisa menggeleng pasrah ketika ditanya harapannya, sembari berharap anak-anak mereka tak harus tumbuh dalam kebisingan.
Hingga saat ini, suara dari Unit 9-10 terus menggema di seluruh penjuru Kampung Kopi. Di bawah langit mendung, deru mesin tetap menguasai, menenggelamkan doa warga yang merindukan kedamaian. Penantian panjang mereka akan tanggapan dari pihak PLTU pun belum menemui hasil.