KonteksMedia – 26 tahun Kota Cilegon berdiri masih menyisakan banyak pertanyaan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, seperti pengangguran, ketimpangan sosial, kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pendidikan hingga lingkungan.
Hal tersebut menjadi sorotan utama para aktivis senior Kota Cilegon, yang akan berkomitmen bersama mengawal semua PR tersebut.
Inisiator terkumpulnya para aktivis senior, Muhammad Ibrohim Aswadi mengungkapkan begitu banyaknya persoalan sistemik yang ada di Kota Cilegon yang tak kunjung menemukan solusi terbaik.
Untuk memecahkan solusi tersebut, menurut Ibrohim, Banten harus didorong menjadi daerah istimewa, dengan status itu bukan sekadar simbol, tapi peluang untuk memberi Banten wewenang lebih dalam mengurus rumah tangganya sendiri.
“Dengan keistimewaan, Banten bisa merumuskan kebijakan yang sesuai dengan wajah dan kebutuhan daerahnya,” katanya, sabtu (3 Mei 2024)
Dalam diskusi yang memanas itu, muncul kritik tajam dari Hasanudin, tokoh masyarakat lain. Ia menyodorkan paradoks kota cilegon dengan lebih dari 400 industri tapi warganya justru terjebak pengangguran.
“Pemerintah jangan cuma jadi penonton. Industri pun harus tanggung jawab renteng menyelesaikan persoalan sosial,” katanya.
Suara yang lebih keras datang dari Sanudin, aktivis yang dikenal vokal. “Kalau kita diam, ketidakadilan akan terus bergulir seperti bola liar,” tegasnya. Sanudin menekankan, memperjuangkan hak masyarakat lokal bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban. Lowongan kerja, dana CSR, bahkan kursi strategis di perusahaan, menurutnya, tak boleh hanya jadi milik orang pusat. “Mereka itu cuma utusan pusat. Kita yang tinggal di sini harus berdiri tegak.”
Dari ranah kebijakan, Mulyadi Sanusi alias Cak Moel tak ragu menuding parlemen lokal. Peraturan Daerah (Perda) penting seperti mitigasi bencana industri dan perlindungan tenaga kerja lokal masih sebatas wacana kosong. “Perda-perda itu masih mentah. Padahal nyawa rakyat yang dipertaruhkan,” sindirnya, menyasar DPRD Cilegon yang dinilai lebih sibuk berpolitik ketimbang bekerja.
Pertemuan para aktivis ini sesungguhnya adalah alarm keras bagi siapa pun yang mau mendengar. Cilegon memang kaya industri, tapi bagi banyak warga, yang tersisa hanyalah debu janji-janji pembangunan. Tanpa perlawanan, perlahan tapi pasti, tanah kelahiran akan sepenuhnya jatuh ke tangan mereka yang tak pernah menginjakkan kaki di sini. (*/Red)