KonteksMedia – Camat, Lurah, Dewan Masjid Indonesia, MUI, ICMI, BKAPAKSI dan BKPRMI forum komunikasi Kecamatan Cilegon baru-baru ini melakukan agenda rutin diantaranya basuh luka Palestina yang sudah empat kali dengan nilai selalu di atas 100 jt, sehingga 15 Januari Camat diundang ekspos di gedung DPR RI.
Camat Kecamatan Cilegon, Maman Herman menceritakan kegiatan bertajuk basuh luka Palestina, yang mana kegiatan tersebut sudah dilakukan selama empat tahun.
Basuh luka Palestina menurutnya sebagai bentuk kepedulian kepada warga Palestina untuk membangun tali persaudaraan sesama muslim.
Kegiatan tersebut menjadi sorotan nasional lantaran Camat Kecamatan Cilegon diundang oleh BAZNAS untuk public expose laporan bantuan kemanusiaan “Membasuh Luka Palestina” di bulan Januari 2025, tepatnya di Gedung Nusantara IV DPR RI.
“Menjadi sebuah kebanggaan bagi kami mendapat apresiasi langsung dari pusat, semoga ini menjadi motivasi yang terus membangun rasa silaturahmi dan kemanusiaan,” katanya
Selain kegiatan tersebut, Maman dan masyarakat Kecamatan Cilegon mengadakan wisata religi dengan mengunjungi masjid-masjid diantaranya masjid An-Nahda di Ngawi Jawa Timur.
Masjid tersebut semula adalah tempat prostitusi dan dibangun oleh pemerintah daerah setempat menjadi masjid, yang berdampak pada UMKM warga setempat.
Kemudian Masjid Namira di Lamongan, masjid itu dibangun oleh pengusaha, kemudian Masjid Agung Arrahman di Blitar.
Kemudian di Masjid Mudhar Arifin yang didirikan oleh dua orang pengusaha bersaudara, Mudhar dan Arifin.
Kunjungan di beberapa masjid tersebut, menurut Camat Kecamatan Cilegon, Maman Herman bertujuan untuk menggali ilmu dan pengalaman untuk diterapkan di Kota Cilegon.
“Kita melakukan kegiatan ini untuk mejadi insiparasi masyarakat Cilegon dan sebagai percontohan, mengingat sampai saat ini belum ada masjid di Kota Cilegon yang menjadi tempat wisata religi,” kata Maman Herman ditemui di kantornya, Rabu (5/3/2025)
Maman menceritakan hal menarik saat berkunjung ke Masjid Pemuda yang berada di Wilayah Jawa Timur dengan ukuran bangunan dan tanah hanya 4×10 meter terletak di wilayah yang penghuninya 80 persen non muslim.
“Konsep rahamatan lil alamin kita temukan disini, mereka terbiasa memberikan makan dan cek kesehatan gratis, kadangpun membagi-bagikan duren kalau musim kepada warga setempat, memberikan ongkos bagi para musafir,” katanya
“Kita juga bersyukur dan haru, jamaah kita dapat menyumbag bantuan dana empat juta rupiah dan memberikan cendramata ke pengurus masjid tersebut,” imbuhnya
Menurut Maman, ada beberapa alasan Kota Cilegon sudah pantas menjadi tempat Wisata Religi namun sampai saat ini belum dijumpai.
“Cilegon ini kita lihat letak geografis sangat mendukung karena Cilegon sebagai Gate Of Java, masyarakat juga sedang melek ke wisata religi,” pungkasnya (*/Red)