Inisiasi Dialog Publik, Cara Lakpesdam PCNU Cilegon Dorong Investasi yang Inklusif dan Berkeadilan

CILEGON – Dalam upaya membangun iklim investasi yang kondusif, inklusif, dan berkeadilan di Kota Cilegon, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilegon mengambil langkah progresif dengan menggelar diskusi publik lintas sektoral.

Diskusi yang berlangsung pada Rabu (9/7/2025) di Aula DPRD Kota Cilegon ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pakar ekonomi, perwakilan pemerintah daerah, unsur legislatif, organisasi profesi pengusaha hingga pelaku industri yang beroperasi di wilayah Cilegon.

Inisiatif ini merupakan bentuk kepedulian Lakpesdam PCNU terhadap kondisi investasi di Kota Baja yang dinilai masih menyisakan ketimpangan, terutama dalam hal keterlibatan dan keberpihakan terhadap pengusaha serta masyarakat lokal.

Ketua PCNU Cilegon, Erick Rebiin menilai bahwa saat ini para pelaku usaha lokal tengah menghadapi tekanan psikologis akibat sejumlah dinamika yang mencuat dalam sektor industri beberapa waktu terakhir, termasuk pascakejadian di tubuh Kadin Cilegon.

“Situasi ini jika tidak segera dipecahkan didiskusikan, ini kekhawatiran menjadi bomerang pada masyarakat Cilegon, sekarang seperti ada momok menakutkan di Kota Cilegon,” ujarnya, Rabu (10/7/2025).

Selama ini, kata Erick, persoalan investasi kerap kali didominasi oleh kesenjangan informasi dan minimnya keterlibatan dari para pelaku usaha lokal maupun masyarakat sekitar kawasan industri. Bahkan, pemerintah daerah pun kerap kesulitan mengakses data terkait aktivitas Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Menurutnya, sudah saatnya investasi di Cilegon memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan kota serta kesejahteraan masyarakatnya, terutama melalui pelibatan aktif pengusaha lokal dalam kegiatan ekonomi industri.

“Dengan berdirinya trikora di PT KS, lantas kita sebagai anak cucunya harus terdiam kah dengan segala kemajuan teknologi dan industri, semua potensi seperti sawah sudah habis oleh industri, semoga ini menjadi jalan masyarakat Cilegon untuk dibukakan pintu selebar-lebarnya dan masuk seluruh investasi Kota Cilegon,” tegasnya.

Erick berharap, forum diskusi ini bisa menjadi pintu masuk untuk menyusun strategi investasi yang lebih inklusif, tidak hanya menyoal keuntungan ekonomi semata, tetapi juga keberpihakan terhadap transparansi, pemerataan akses kerja, kemitraan bisnis, hingga aspek tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Lebih dari itu, kehadiran organisasi masyarakat berbasis keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dinilai dapat membawa pendekatan yang lebih humanis dan etis dalam menata ekosistem investasi di daerah.

Salah satu hasil konkret dari diskusi tersebut adalah rencana pembentukan forum komunikasi lintas sektoral yang akan menjadi wadah resmi antara pengusaha lokal, pemerintah daerah, dan pihak industri, guna membuka keran dialog yang selama ini tersumbat.

Prof. Fauzi Sanusi, akademisi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), menyambut baik inisiatif forum tersebut. Menurutnya, dibutuhkan sebuah lembaga resmi yang menjadi penghubung antara dunia industri dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

“Forum ini menjembatani hubungan antara investor dengan pengusaha lokal, dengan masyarakat, agar tidak terjadi komunikasi yang terhambat,” tuturnya pada kesempatan yang sama.

Ia juga menekankan pentingnya legitimasi hukum agar forum tersebut dapat berjalan secara efektif dan diakui oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan ekonomi daerah.

“Saya minta itu diperwalkan agar ada legitimasi hukumnya, karena dia harus diakui oleh semua stakeholder, oleh industri, masyarakat dan pengusaha,” jelasnya.

Prof. Fauzi juga menyarankan agar struktur forum ini melibatkan beragam unsur strategis di daerah, mulai dari pemerintah, organisasi pengusaha, ormas keagamaan seperti NU dan Lakpesdam, hingga kalangan akademisi.

“Unsurnya ada Pemerintah, organisasi pengusaha itu kita libatkan kemudian ormas NU Lakpesdam-nya itu dan ormas yang lain juga kita tarik dan perguruan tinggi,” katanya menutup diskusi.

Sementara itu Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon, Hayati Nufus mengungkapkan kegemberiaan dan apresiasi untuk membantu pemerintah dalam membangun komunikasi dengan lintas sektor.

“Kehadiran diskusi ini menambah kesan positif yang harus diapresiasi, demi menjaga iklim investasi yang inklusif dan berkeadilan,” pungkas Nufus (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

Konteks Media merupakan media suara rakyat, dengan mengedepankan pikiran-pikiran kritis dan terbuka. Memberikan informasi yang faktual, aktual, serta detail kepada publik. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip media yang independen sebagai media alternatif jalan pikiran masa depan rakyat Indonesia.