KonteksMedia – Mahasiswa KKM Kelompok 73 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) dukung UMKM di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang.
Mahasiswa melihat langsung dan membantu proses pembuatan produk anyaman bambu tersebut. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendukung pengembangan usaha lokal sekaligus melestarikan keterampilan tradisional yang menjadi ciri khas desa.
Mahasiswa KKM turut serta dalam proses pembuatan anyaman bambu, mulai dari persiapan bahan hingga menghasilkan produk jadi.
“Dengan berpartisipasi langsung, kami tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mempercepat proses produksi,” kata Sekbid Ekonomi dan UMKM, Putri Wulandari, Jumat (11/7/2025).
Kata Putri kegiatan tersebut juga diharapkan dapat membantu UMKM dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya, serta memperluas jangkauan pemasaran.
Dukungan dari mahasiswa KKM ini juga diharapkan dapat mendorong keberlanjutan usaha anyaman bambu sebagai salah satu sumber ekonomi penting bagi masyarakat setempat.
“Produk utama yang menjadi andalan UMKM setempat adalah tampah bambu, selain juga memproduksi kipas tradisional dan bakul. Selain itu juga, kegiatan menganyam bambu menjadi bagian penting dalam kehidupan warga. Banyak keluarga yang menggantungkan ekonomi rumah tangga dari hasil kerajinan ini,” imbuhnya
Salah satu warga pengrajin bambu bercerita menarik, bahwa bambu yang sebagai bahan baku utama dibeli dari luar desa, karena ketersediaan bambu di wilayah tersebut terbatas.
“Kami biasanya beli bambu dari pengepul di luar desa, seperti dari daerah Petir atau Cikeusal,” ujar Mari
Mari menjelaskan terdapat empat tahapan pembuatan tampah bambu dilakukan secara manual dan membutuhkan ketelitian tinggi.
“Pertama, pemotongan dan penipisan bambu, kedua perendaman dan pengeringan, bilah bambu direndam selama 1-2 hari agar lentur, lalu dijemur hingga cukup kering agar mudah dianyam,” jelasnya
“Kemudian ketiga, proses penganyaman bilah bambu, dianyam satu per satu membentuk lingkaran datar menyerupai tampah. Tahap ini membutuhkan ketelitian agar hasilnya kuat dan simetris. Terakhir, pemasangan bingkai dan finishing.
“Tampah yang sudah jadi diberi bingkai dari bambu melingkar untuk menguatkan, lalu diamplas dan dijemur kembali agar tahan lama,” imbuhnya
Tak hanya tampah, produk kipas dan bakul juga dibuat oleh para perajin, terutama ibu rumah tangga. Semua produk dijual secara langsung maupun melalui media sosial oleh pemuda-pemuda setempat yang mulai aktif membantu pemasaran UMKM.
Harga tampah bervariasi, jika sedang mahal bisa mencapai Rp15.000 per buah, sedangkan jika sedang murah bisa turun hingga Rp8.000 per buah. Saat harga mahal, pengambilan tampah bisa dilakukan setiap minggu, namun ketika harga sedang murah, pengambilannya menjadi lebih jarang.
Kepala Desa Kampung Baru, Urdin, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan UMKM ini.
“Kami akan terus mendorong pelatihan dan pembinaan agar produk anyaman Kampung Baru bisa dikenal lebih luas, bahkan sampai ke luar daerah,” ucapnya.
“Dengan semangat menjaga tradisi dan meningkatkan ekonomi, UMKM anyaman bambu di Desa Kampung Baru menjadi bukti bahwa kerajinan lokal mampu bertahan dan berkembang di era modern,” pungkasnya (*/Red)